Pages

Kamis, 17 Maret 2011

Kapan Ya Kita Berjumpa Lagi?

Aloha,
Terhitung 2 bulan lebih sudah semenjak posting terakhir saya. Cukup lama juga yah. Okedeh, langsung saja cuap-cuapnya

Rabu, 16 Maret 2011

Hari itu, antara senja dan malam. Kami para muslim menyebutnya waktu maghrib. Saya sholat maghrib di musholla kecil di pojok Stasiun Kereta Api Tanjung Barat. Jarang-jarang saya mau naik kereta di jam-jam padat seperti itu. Biasanya, saya pulang dari tempat magang saya di Pluit dengan diantar Bus Trans Jakarta. Tetapi berhubung pada hari itu saya mendengar kabar hujan besar yg menyebabkan daerah Semanggi macet total, saya memutuskan untuk pulang menggunakan kereta. Ya, seperti biasanya. Penuh sesak! Ditambah dengan kereta yang tiba-tiba berhenti di pertengahan jalan. Tak kunjung bergerak. Ya Allah, bolehkah saya sekali-sekali mengeluh? Letih!

Kembali ke musholla kecil tadi. Alhamdulilah suasananya ramai. Tetapi saya memikirkan penumpang kereta api barusan yang bertujuan ke Bogor. Apa sempat? Sekedar melepas rindu kepada Tuhannya? (dari Stasiun Kereta Api Tanjung Barat hingga Bogor harus melewati 9 stasiun lagi, untuk menuju setiap stasiun kurang lebih 5 menit). Lancarkanlah perjalanan mereka ya Allah, agar mereka dapat menunaikan shalat maghrib seperti datangnya mereka ke kantor masing-masing, tepat waktu. Saya tahu, di kota besar, di jam-jam pulang kerja seperti ini, di saat hampir seluruh alternatif transportasi padat berasap, disaat masing-masing kendaraan berebut siapa yang jalan duluan. Khususnya bagi mereka yang menggunakan jasa transportasi umum, memang gampang-gampang susah mencari celah untuk menyempatkan shalat maghrib. Kalau tidak disiasati, bisa bablas sampai isya. Na’udzubillahimin dzalik.

Nah, di musholla kecil tadi, selepas shalat maghrib. Saya duduk sekadar merenggangkan otot-otot kaki saya yang sudah sekian lama membantu menopang tubuh saya. Terima kasih banyak ya kakiku (: Letih rasanya. Ups! Mengeluh sah-sah saja, tetapi jangan kebanyakan. Tadi sudah janji sekali-sekali saja bukan? Hehe.

Seorang ibu atau bisa disebut dosen atau juga bisa disebut mahasiswa, sama seperti saya, ia juga telah selesai menunaikan shalat maghrib. Kemudian ia duduk di sebelah saya, meluruskan kakinya. Wajahnya terlihat letih sekali. Bagaimana tidak, semalaman ia tidak tidur mengerjakan thesisnya, lalu paginya pergi ke tempat penelitiannya, dan siangnya harus kembali bekerja, hingga sampailah ia di musholla kecil ini. Subhanallah. Di umur yang segitu. Hebat!

Tercipta begitu saja, kami mengobrol panjang. Akrab dan hangat. Sambil menunggu waktu isya. Setengah jam yang terasa amat singkat. Saya bercerita, kemudian ibu itu lebih banyak bercerita lagi. Ringan, realistis sekali, dan apa adanya. Tetapi dari obrolan yang ringan tersebut, saya mendapatkan banyak inspirasi. Tentang apa yang akan saya lakukan kedepan. Tentang apa yang dapat saya ambil dan yang tidak. Maha Besar Allah. Tanpa sadar, banyak tujuan hidup saya yang saya dapatkan dari obrolan-obrolan ringan seperti itu. Tidak hentinya saya mengucap puji dan agung padaMu kekasihKu. Jadikanlah seluruh jalan dan tujuan hidupku sebagai media untuk mencapai tujuan yang sebenarnya ya Rabb. Tujuan yang hakiki, murni, dan pasti. Bantu aku mencapai tujuan itu ya Allah. Sungguh aku rindu padaMu, sungguh!

Panggilan isya pun datang bersahutan. Meski tidak terdengar oleh kami. Berbekal pengalaman, jam segitu mesti sudah masuk waktu isya. Kami menunaikan shalat isya, lalu bergegas pulang bersama. Jalanan sudah sepi. Dan kami berpisah menaiki angkutan umum yang berbeda. Saling mengucapkan salam. Salam perpisahan. Ah, ibu itu.. Terima kasih ibu. Kapan ya kita berjumpa lagi?

Selasa, 04 Januari 2011

Mudah Saja Untuk Berbahagia

Saya kuliah di sebuah kampus yang menuntut saya bermobilitas menggunakan bis dari kampus saya tersebut. Di dalam bis itu, seorang anak kecil loper koran menghampiri saya. Saya agak terkejut juga langsung simpati ketika anak tersebut menawari saya koran menggunakan bahasa inggris. "Do you want to buy a news paper?", begitu tawar ia. Yang tadinya saya selalu enggan membeli koran (karena di rumah sudah berlangganan koran), tanpa pikir panjang saya langsung membeli koran dari anak tersebut dan uangnya saya lebihkan(insyaAllah bukan bermaksud pamer, hanya untuk share). Bocah tersebut langsung tersenyum lebar. Jujur saja saya sangat mengapresiasi kemampuannya berbicara bahasa inggris. Untuk ukuran seorang loper koran, itu sudah luar biasa menurut saya. Lebih-lebih ketika saya ajak ngobrol dengan bahasa inggris, sedikit-sedikit ia bisa merespon saya. Walaupun terkadang ia mengeluh tidak bisa. Tetapi kemudian saya dibuat miris ketika saya meminta ia mengucapkan kalimat apa saja dalam bahasa inggris yang ia bisa, seketika ia langsung berkata "can you give me some money?". Saya langsung berfikir, apakah anak ini memang sengaja dilatih bebicara bahasa inggris hanya untuk mencari uang? Dengan santai saya jawab, "I've already gave you some money by buying your news paper". Kembali bocah tersebut tersenyum, malu. Bis pun telah tiba di pemberhentian tujuan saya. Saya turun bersama bocah tersebut. Bocah tersebut pun melambaikan tangannya sambil menanyakan nama saya yang kemudian saya jawab. Semoga kita dapat bertemu kembali.
Atas kejadian tersebut saya berbahagia
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebelumnya di kampus, sahabat saya sedang berulang tahun. Dengan maksud membuat senang sahabat saya, saya memberinya kejutan(because i like suprizes (: ). Benar-benar hanya kejutan kecil. Tetapi saya tidak pernah menyangka sahabat saya tersebut sampai menangis ketika menerima kejutan kecil saya. Sungguh atas kejadian tersebut lagi-lagi saya berbahagia 
Hari itu, tanggal 31 Desember 2010. Saya menutup penghujung tahun dua ribu ke-sepuluh tersebut dengan hati penuh kebahagiaan. Mengapa bisa seperti itu? Karena saya memberikan kebahagiaan, karena saya mengerti si penerima kebahagiaan tersebut berbahagia menerima kebahagiaan yang saya berikan, dan dengan itulah saya berbahagia. Jadi, prinsipnya adalah memberi maka anda akan menerima. Prinsip yang sama dalam bersedekah, ternyata memiliki hubungan yang berbanding lurus dengan kebahagiaan. Subhanallah, berbahagialah kita yang memiliki agama yang sebegitu indah dan sempurna.

Banyak orang bertanya-tanya "bagaimana saya mendapatkan kebahagiaan?". Saya pribadi justru balik bertanya kepada mereka. Mengapa harus mencari kebahagiaan? Bagi saya, kebahagiaan itu bukan untuk dicari, tetapi untuk diciptakan. Ciptakan kebahagiaan, maka anda akan mendapatkan kebahagiaan. Kembali lagi keprinsipnya, memberi maka anda akan menerima. Sebuah proses yang amat simpel menurut saya.